Tertanggal 20 April 2009 jam 02:54 dini hari, teruntuk kakak yang sedang terlelap di mimpi indahnya. Sebuah karya dari adik yang berjudul, “Rio Afonandro”.
Bagian Pertama,
Di pelataran tempatku bernaung, disinilah aku tinggal, beratapkan langit yang membaharu biru, sepoi air conditioner ber-aroma alami senantiasa aku hirup sepanjang hari.
“Namaku Rio Afonandro”, anak kecil tersebut berterus terang terhadap Pak Polisi.
Hari ini di kemacetan lalu lalang jalanan penat sepeda motor di kota kecil bernama Jogja yang terkenal se-antero jagad dunia.
“Kamu nemu dimana dompet ini?”, Tanya Pak Polisi berperangai bengis, dengan tutur kata kasar dan lugas dikarenakan ricuhnya suasana waktu itu, pinggir jalan Slamet Riyadi atau bisa disebut juga jalan Solo.
Andro panggilannya berkata, ”Apa Sir?”.
“Ooo budeg! Dimana kamu nemu dompetnya!”, dengan nada kesal seraya mengibas-ngibaskan dompet yang dipegangnya.
“Ohh.. sorry sir! Saya tadi nemu di emperan Malioboro”, Andro yang pernah mendapatkan nilai delapan di kelas bahasa inggrisnya di Sekolah Kehidupan.
“Kamu tahu siapa pemiliknya”, tandas Pak Polisi berseragam lengkap dengan pistol yang tidak pernah sekalipun peluru keluar dari peraduannya.
“Yang jelas bukan milik Andro, Sir! Makannya saya serahin ke Pak Polisi”, sedikit senyam senyum.
“Kamu ini! Okey, apa kamu tahu isinya Nak?”, Pak Polisi sambil mencoba membuka dompet itu yang ternyata hanya sesobek kertas terlipat usang.
“Kamu bercanda ya nak, dompet ini kosong! Buat apa kamu kasihkan ke Bapak? Bapak ini lagi sibuk. Jadi jangan main-main dengan Bapak. Bisa-bisa kamu saya amankan lho!”, kemudian membuka kertas usang tersebut dan membaca tulisannya.
“Tolong kembalikan kepada yang punya! tertanda Udin”.
Semakin geram Pak Polisi ketika membaca tulisan tersebut.
“Andro tidak bercanda Sir, niat Andro baik kok, mau ngembalikan dompet ini ke orang yang bernama Udin, namun Andro tidak tahu alamat Udin, jadi mungkin Pak Polisi bisa bantu Andro, nyerahin dompet ini ke Udin.”
Nerocos keluar dari mulut murid SD sekitar kelas 6 di Sekolah Kehidupan, yaitu jalanan.
“Wah kamu ini baik juga ya Nak, namamu siapa tadi? Dengan mengusap kepala Andro sesekali sambil tersenyum pula.
“Rio Afonandro, Sir!”, Andro dengan menahan rasa bangga namanya dia kembali sebut.
“Dompet ini mungkin dijatuhkan dengan sengaja oleh si Udin ‘warga kampung sini yang paling ganteng’”, tegas Pak Polisi dengan tutur bahahasa mirip Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang berlagak jadi humoris. Lanjutnya,
“Sekolahmu di mana Nak? Kok jam segini udah pulang, kamu mbolos yah? Ga baik lho mbolos itu, entar siapa yang akan menjadi pengganti Pak Presiden SBY jika anak SD seperti kamu kerjaannya cuman membolos, nanti pinternya kapan?”
Berusaha mengakrabkan diri dan sadari hahwa yang dihadapinya adalah siswa SD bukan penjahat yang harus di pecundangi.
“Andro tidak sekolah kok Sir! Andro seorang artis, artis jalanan maksudnya.”
Senyam-senyum pertanda keluguan pada bocah tangkas ini.
“Kok tidak sekolah, kan sekolah itu penting, orang tuamu tidak tahu ya?”
“Andro ga punya orangtua kok Sir.”
“Andro hidup sendiri berselimutkan angin liar, tidur di emperan toko dan mandi di masjid-masjid, makan di tempatnya Bang Upik penjual nasi kucing dari Klaten. Kadang sih digratisi orang. ha ha ha”
“Malang benar nasipmu Nak, hidup sebatang kara..”, Pak Polisi memelas.
“Eitt.. sebatang kara itu apa Sir?”, potongnya.
“Hidup sendirian!”, Pak Polisi menjelaskan.
“Nggak kok, Andro ga sendiri, tuh temen Andro lagi ngemis di trotoar, tuh si Amin lagi rebutan botol bekas ama si Narti, tuh disana Mbok Inem sama anaknya yang masih bayi nyanyi di lampu merah, banyak kan Sir, temenku? Jelas Andro tidak sendiri, paling kalo malem aja, waktu mereka pada pulang ke rumahnya di Sraten. Andro sendri berjalan jauh banget sampai capek dan di situ Andro tiduran di tempat gelap, karena gelap itu hangat.“, sambil menunjuk ke tas kumal besar di bawah pohon yang mungkin tas itulah rumah kepompong Andro.
“Oh, tadi bahasa inggrismu kok bisa bagus banget! belajar dari mana?”
“Dulu Andro ikut ama Mbah Bule yang lagi liburan ke Jogja, empat hari Andro bersamanya, Andro dibeliin baju bagus ini, Andro dikasih uang segepok buat jajan di warungnya Bang Upik, diajari bahasa inggris, dibeliin tas, sendal jepit, minyak wangi ama selimut gedhe banget, tapi Andro harus nganter Mbah Bule keliling Jogja naik becak. Seneng banget Andro Pak, tetapi sekarang Mbah Bule udah balik ke rumahnya di Belanda.”, dengan suasana hati berbinar-binar.
“Dan hebatnya Sir, Andro dikasih nama belakang Afonandro, katanya sebagai kenang-kenangan biar tidak lupa sama Mbah Bule.”
“Wah hebat banget kamu Ndro. Napa kamu ga ikut saja ke Belanda?”
“Sebenere Andro mau diajak ke Belanda, mau disekolahkan biar bahasa inggrisnya lebih bagus, tetapi Andro terlanjur cinta Tanah Air, cinta Jogja. Andro lebih suka disini karena orang-orangnya suka senyam senyum dan suka ngasih uang di jalan walau ga sebanyak Mbah Bule.”
Betapa mirisnya hati Pak Polisi dengan perkataan Andro, terlebih dengan kata “..terlanjur cinta Tanah Air”, demikian dalam merasuk ke hati aparatur negara ini, membuat pikirannya menerawang jauh, ”Apa yang harus aku lakukan untuk laskar masa depan ini?”.
Teringat di sebelah rumah ada Ponpes anak-anak kecil, maka beliau berinisiatif memasukkannya di Ponpes tersebut. Andro juga senang sekali mendapatkan tawaran ini, karena Andro adalah anak berjiwa maju, setiap waktu renggangnya digunakan untuk belajar, meskipun dari buku bekas yang dibawa oleh Mbak Karni, mahasiswi yang baik hati, beberapa bulan mencurahkan perhatiaannya kepada anak jalanan, dengan mengajari mereka beraneka macam pelajaran khususnya membaca dan menulis.
“Dompetnya gimana Sir?”, celetup Andro sambil menunjuk dompet yang dibawa Pak Polisi.
“Dompetnya saya bawa ke markas agar bisa di klarifikasi dan temuanmu akan dimasukkan dalam laporan, bahwa ada anak yang baik hati telah menemukan dompet yang berisi kertas yang ditulis nama Udin, ‘warga kampung sini yang paling ganteng!’”
Sambil senyum dan memberikan kartu berisi nama dan alamat rumah yang nantinya akan membawa “Barokah”, apabila Andro bersedia mendatangi alamat tersebut. Perlahan Andro membacanya dengan terbatah-batah kartu nama tersebut.
“Na na,
na
ma ma,
ma
nama!!!
Uuu,
u
dee de,
d
iii,
iin
Halah.
Sampeyan Pak Udin tho?!! ”, celetup Andro.
(,,-Sekian-“ ^_^ “)
Selesai ketikan 04:15 dini hari Oleh: HeCker
Terimakasih atas bimbingan dari Ibu Guru..
Nanda_Kasum
Di Gaten, Jogjakarta
Bagian Pertama,
Di pelataran tempatku bernaung, disinilah aku tinggal, beratapkan langit yang membaharu biru, sepoi air conditioner ber-aroma alami senantiasa aku hirup sepanjang hari.
“Namaku Rio Afonandro”, anak kecil tersebut berterus terang terhadap Pak Polisi.
Hari ini di kemacetan lalu lalang jalanan penat sepeda motor di kota kecil bernama Jogja yang terkenal se-antero jagad dunia.
“Kamu nemu dimana dompet ini?”, Tanya Pak Polisi berperangai bengis, dengan tutur kata kasar dan lugas dikarenakan ricuhnya suasana waktu itu, pinggir jalan Slamet Riyadi atau bisa disebut juga jalan Solo.
Andro panggilannya berkata, ”Apa Sir?”.
“Ooo budeg! Dimana kamu nemu dompetnya!”, dengan nada kesal seraya mengibas-ngibaskan dompet yang dipegangnya.
“Ohh.. sorry sir! Saya tadi nemu di emperan Malioboro”, Andro yang pernah mendapatkan nilai delapan di kelas bahasa inggrisnya di Sekolah Kehidupan.
“Kamu tahu siapa pemiliknya”, tandas Pak Polisi berseragam lengkap dengan pistol yang tidak pernah sekalipun peluru keluar dari peraduannya.
“Yang jelas bukan milik Andro, Sir! Makannya saya serahin ke Pak Polisi”, sedikit senyam senyum.
“Kamu ini! Okey, apa kamu tahu isinya Nak?”, Pak Polisi sambil mencoba membuka dompet itu yang ternyata hanya sesobek kertas terlipat usang.
“Kamu bercanda ya nak, dompet ini kosong! Buat apa kamu kasihkan ke Bapak? Bapak ini lagi sibuk. Jadi jangan main-main dengan Bapak. Bisa-bisa kamu saya amankan lho!”, kemudian membuka kertas usang tersebut dan membaca tulisannya.
“Tolong kembalikan kepada yang punya! tertanda Udin”.
Semakin geram Pak Polisi ketika membaca tulisan tersebut.
“Andro tidak bercanda Sir, niat Andro baik kok, mau ngembalikan dompet ini ke orang yang bernama Udin, namun Andro tidak tahu alamat Udin, jadi mungkin Pak Polisi bisa bantu Andro, nyerahin dompet ini ke Udin.”
Nerocos keluar dari mulut murid SD sekitar kelas 6 di Sekolah Kehidupan, yaitu jalanan.
“Wah kamu ini baik juga ya Nak, namamu siapa tadi? Dengan mengusap kepala Andro sesekali sambil tersenyum pula.
“Rio Afonandro, Sir!”, Andro dengan menahan rasa bangga namanya dia kembali sebut.
“Dompet ini mungkin dijatuhkan dengan sengaja oleh si Udin ‘warga kampung sini yang paling ganteng’”, tegas Pak Polisi dengan tutur bahahasa mirip Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang berlagak jadi humoris. Lanjutnya,
“Sekolahmu di mana Nak? Kok jam segini udah pulang, kamu mbolos yah? Ga baik lho mbolos itu, entar siapa yang akan menjadi pengganti Pak Presiden SBY jika anak SD seperti kamu kerjaannya cuman membolos, nanti pinternya kapan?”
Berusaha mengakrabkan diri dan sadari hahwa yang dihadapinya adalah siswa SD bukan penjahat yang harus di pecundangi.
“Andro tidak sekolah kok Sir! Andro seorang artis, artis jalanan maksudnya.”
Senyam-senyum pertanda keluguan pada bocah tangkas ini.
“Kok tidak sekolah, kan sekolah itu penting, orang tuamu tidak tahu ya?”
“Andro ga punya orangtua kok Sir.”
“Andro hidup sendiri berselimutkan angin liar, tidur di emperan toko dan mandi di masjid-masjid, makan di tempatnya Bang Upik penjual nasi kucing dari Klaten. Kadang sih digratisi orang. ha ha ha”
“Malang benar nasipmu Nak, hidup sebatang kara..”, Pak Polisi memelas.
“Eitt.. sebatang kara itu apa Sir?”, potongnya.
“Hidup sendirian!”, Pak Polisi menjelaskan.
“Nggak kok, Andro ga sendiri, tuh temen Andro lagi ngemis di trotoar, tuh si Amin lagi rebutan botol bekas ama si Narti, tuh disana Mbok Inem sama anaknya yang masih bayi nyanyi di lampu merah, banyak kan Sir, temenku? Jelas Andro tidak sendiri, paling kalo malem aja, waktu mereka pada pulang ke rumahnya di Sraten. Andro sendri berjalan jauh banget sampai capek dan di situ Andro tiduran di tempat gelap, karena gelap itu hangat.“, sambil menunjuk ke tas kumal besar di bawah pohon yang mungkin tas itulah rumah kepompong Andro.
“Oh, tadi bahasa inggrismu kok bisa bagus banget! belajar dari mana?”
“Dulu Andro ikut ama Mbah Bule yang lagi liburan ke Jogja, empat hari Andro bersamanya, Andro dibeliin baju bagus ini, Andro dikasih uang segepok buat jajan di warungnya Bang Upik, diajari bahasa inggris, dibeliin tas, sendal jepit, minyak wangi ama selimut gedhe banget, tapi Andro harus nganter Mbah Bule keliling Jogja naik becak. Seneng banget Andro Pak, tetapi sekarang Mbah Bule udah balik ke rumahnya di Belanda.”, dengan suasana hati berbinar-binar.
“Dan hebatnya Sir, Andro dikasih nama belakang Afonandro, katanya sebagai kenang-kenangan biar tidak lupa sama Mbah Bule.”
“Wah hebat banget kamu Ndro. Napa kamu ga ikut saja ke Belanda?”
“Sebenere Andro mau diajak ke Belanda, mau disekolahkan biar bahasa inggrisnya lebih bagus, tetapi Andro terlanjur cinta Tanah Air, cinta Jogja. Andro lebih suka disini karena orang-orangnya suka senyam senyum dan suka ngasih uang di jalan walau ga sebanyak Mbah Bule.”
Betapa mirisnya hati Pak Polisi dengan perkataan Andro, terlebih dengan kata “..terlanjur cinta Tanah Air”, demikian dalam merasuk ke hati aparatur negara ini, membuat pikirannya menerawang jauh, ”Apa yang harus aku lakukan untuk laskar masa depan ini?”.
Teringat di sebelah rumah ada Ponpes anak-anak kecil, maka beliau berinisiatif memasukkannya di Ponpes tersebut. Andro juga senang sekali mendapatkan tawaran ini, karena Andro adalah anak berjiwa maju, setiap waktu renggangnya digunakan untuk belajar, meskipun dari buku bekas yang dibawa oleh Mbak Karni, mahasiswi yang baik hati, beberapa bulan mencurahkan perhatiaannya kepada anak jalanan, dengan mengajari mereka beraneka macam pelajaran khususnya membaca dan menulis.
“Dompetnya gimana Sir?”, celetup Andro sambil menunjuk dompet yang dibawa Pak Polisi.
“Dompetnya saya bawa ke markas agar bisa di klarifikasi dan temuanmu akan dimasukkan dalam laporan, bahwa ada anak yang baik hati telah menemukan dompet yang berisi kertas yang ditulis nama Udin, ‘warga kampung sini yang paling ganteng!’”
Sambil senyum dan memberikan kartu berisi nama dan alamat rumah yang nantinya akan membawa “Barokah”, apabila Andro bersedia mendatangi alamat tersebut. Perlahan Andro membacanya dengan terbatah-batah kartu nama tersebut.
“Na na,
na
ma ma,
ma
nama!!!
Uuu,
u
dee de,
d
iii,
iin
Halah.
Sampeyan Pak Udin tho?!! ”, celetup Andro.
(,,-Sekian-“ ^_^ “)
Selesai ketikan 04:15 dini hari Oleh: HeCker
Terimakasih atas bimbingan dari Ibu Guru..
Nanda_Kasum
Di Gaten, Jogjakarta

0 komentar:
Post a Comment
SILAHKAN ISI KOMENTAR