Saturday, July 04, 2009

Karya ke-1


Karya Pertama:

Pembohong

 

Akhir-akhir ini aku sering lupa, apa ini pertanda usiaku bisa dikategorikan ke dalam usia uzur?

 

Baru saja saudara dari tanteku di barat pulau jawa menelpon, menagih janji. Janji apa yang Pipit maksudkan, Pipit nama pendeknya. Beberapa bulan lalu tanteku berkunjung ke rumah dan memperkenalkan seorang gadis berjilbab lebar, dan tak lain dialah Pipit, yang juga otomatis dia merupakan saudaraku, karena dia saudaranya tanteku, persaudaraan yang jauh intinya. Semoga paham.

 

Di akhir pertemuan singkat kami, tiba-tiba saja sebuah kalimat terlontar dalam mulutku, bisa dibilang basa–basi, kebiasaan orang yang berupaya ramah terhadap sang tamu, dan Pipit merupakan tamu. Kesediaanku mengantarkannya jalan-jalan keliling kota Jogja. Kalau mereka datang lagi bertamu di kampung halamanku, Klaten.

 

Akibat basa-basi ini kini hari-hariku menjadi merana, kenapa bisa basa-basi bisa membuat seseorang menjadi merana? Bagaimana ceritanya? Mari kita simak lebih lanjut lagi, singkat saja.

 

"Wahai sodaraku di kampung sana? Kini akini aku mau menagih janjimu!"

Janji apakah itu? Dalam benakku.

 

Setelah beberapa saat berbincang-bincang di telepon akhirnaya aku paham betul maksudnya, Pipit berkeinginan untuk kembali bertamu di rumahku dan berharap kesedianku untuk mengantarkannya keliling kota Jogja, menikmati suasana kota pendidikan dan pariwisata. Melihat-lihat betapa damainya para sopir becak juga para sopir kereta kuda yang di Jakarta jumlahnya jauh lebih sedikit daripada di Jogja. Kota Jogja diibaratkan sebuah miniatur surga bagi para pelancong yang haus akan pendidikan, kebanyakan pelancong pada betah dan tidak sedikit berencana menghabiskan sisa hidupnya di Kota Jogja ini.

 

Di shift-shift pabrik kini aku terjebak, kesibukan akan dunia kerja mmbuat jadwal hidupku berantakan, ditambah lagi permintaan Pipit tentang penagihan janji, hatiku terasa miris, gusar pula pikiran, di tengah kesibukanku apa aku mampu memenuhi janji yang sebenarnya hanya basa-basi ini. Apa aku hanyalah seorang pembohong yang berupaya menjadi tuan rumah yang baik? Maafkan aku Pipit.

 


0 komentar:

Post a Comment

SILAHKAN ISI KOMENTAR