Wednesday, July 29, 2009

Kehilangan Pena


Lantunan lagu terasa syahdu. Menemani sang pemilik jiwa pilu. Menenangkan semangat buta, mengakhiri pemberontakan kata.

Demikianlah, aku tengah kehilangan pena, berupa raga tuk bergelut dengan rasa cinta akan sebuah cerita..

Di tempatku terbaring, seakan jendela antar demensi terbentang, sampai bisa kulihat kalian menari-nari di atas awan. Menikmati keindahan ragam alam, melukis warna pelangi dan menggapai bintang dengan tinta di laut hitam
..
..
Tertegun aku hingga tak mampu berucap. Tentang kerinduan akan..
..
..sesuatu yang terpaksa dihilangkan!

Tuesday, July 14, 2009

[renungan]


Penggemar (Pilih lagumu!)
Pingin tau rasanya jadi penggemar? Simak baik-baik deretan kalimat berikut..

Pertama kali dia menyukai musik, ketika di kelas seni musik, para siswa satu per satu diwajibkan untuk melantunkan tembang populer di depan kelas. Padahal dalam hidupnya tidak terngiang sedikitpun tentang lagu-lagu populer saat itu. Lagu yg seyogyanya menghibur sekarang berubah menjadi tekanan dalam hidupnya. Hanya disuruh menyanyikan sebuah lagu populer, telah merubah hidupnya. Usia ke-17 belum bisa melantunkan lagu Sheila on 7 yang pada saat tengah mendasyat di kalangan pemuda seumurannya. Terpaksa dia harus mengobrak-abrik rak kaset milik bapaknya, tak ada kaset terbaru. Hanya ada beberapa puluh kaset bernuasa rock dan tembang kenangan. Mana yang populer? Kesemuanya termasuk klasik dan legend. Esok dia harus manggung, satu pilihan kaset yang bisa merubah hidupnya, mengajari apa itu persahabatan dan cinta. Kaset bertuliskan greatest hits, pasti tidak diragukan lagi pilihan ini. Lagu yang dipilih perlambang jalan hidup yang akan diambil, kadang lagu
hadir di dalam kesendirian, suka maupun duka. Kelak lagu tersebut akan menjadi diri kita, hingga bisa teringat akan kisah lalu pula. Lagu itu buatan orang lain namun tak sedikit ada yang menjadikan lagu tersebut menjadi milik pribadi.
Lagu pertama di hatinya, berjudul "Help!" dari The Beatles.
Perlambang kesendiriannya dalam hidup, akankah ada orang lain yang bisa membantunya agar hidupnya lebih hidup.

Boleh tau apa lagumu?

Oleh
A A bil Haq

Saturday, July 04, 2009

Karya ke-1


Karya Pertama:

Pembohong

 

Akhir-akhir ini aku sering lupa, apa ini pertanda usiaku bisa dikategorikan ke dalam usia uzur?

 

Baru saja saudara dari tanteku di barat pulau jawa menelpon, menagih janji. Janji apa yang Pipit maksudkan, Pipit nama pendeknya. Beberapa bulan lalu tanteku berkunjung ke rumah dan memperkenalkan seorang gadis berjilbab lebar, dan tak lain dialah Pipit, yang juga otomatis dia merupakan saudaraku, karena dia saudaranya tanteku, persaudaraan yang jauh intinya. Semoga paham.

 

Di akhir pertemuan singkat kami, tiba-tiba saja sebuah kalimat terlontar dalam mulutku, bisa dibilang basa–basi, kebiasaan orang yang berupaya ramah terhadap sang tamu, dan Pipit merupakan tamu. Kesediaanku mengantarkannya jalan-jalan keliling kota Jogja. Kalau mereka datang lagi bertamu di kampung halamanku, Klaten.

 

Akibat basa-basi ini kini hari-hariku menjadi merana, kenapa bisa basa-basi bisa membuat seseorang menjadi merana? Bagaimana ceritanya? Mari kita simak lebih lanjut lagi, singkat saja.

 

"Wahai sodaraku di kampung sana? Kini akini aku mau menagih janjimu!"

Janji apakah itu? Dalam benakku.

 

Setelah beberapa saat berbincang-bincang di telepon akhirnaya aku paham betul maksudnya, Pipit berkeinginan untuk kembali bertamu di rumahku dan berharap kesedianku untuk mengantarkannya keliling kota Jogja, menikmati suasana kota pendidikan dan pariwisata. Melihat-lihat betapa damainya para sopir becak juga para sopir kereta kuda yang di Jakarta jumlahnya jauh lebih sedikit daripada di Jogja. Kota Jogja diibaratkan sebuah miniatur surga bagi para pelancong yang haus akan pendidikan, kebanyakan pelancong pada betah dan tidak sedikit berencana menghabiskan sisa hidupnya di Kota Jogja ini.

 

Di shift-shift pabrik kini aku terjebak, kesibukan akan dunia kerja mmbuat jadwal hidupku berantakan, ditambah lagi permintaan Pipit tentang penagihan janji, hatiku terasa miris, gusar pula pikiran, di tengah kesibukanku apa aku mampu memenuhi janji yang sebenarnya hanya basa-basi ini. Apa aku hanyalah seorang pembohong yang berupaya menjadi tuan rumah yang baik? Maafkan aku Pipit.