Kembali ke kamarku yang jika ada teman berkunjung akan terasa pengap, aliran udara hanya berputar saja. Sering kali pintu kamar aku biarkan terbuka, namun tidak begitu lama. Tempat tidurku yang empuk lengkap dengan perkakas penanak nasi. Semua serba ada di kamarku. Inilah rupa kamar kos, penuh sesak barang rumah tangga yang seharusnya tidak ditempatkan dalam satu ruang. Benda kesayanganku adalah komputer, jendela antar dunia mimpi dan nyata, yang merupakan temanku dikala sepi. Aku serasa hidup di duniaku sendiri. Kamar ini adalah tempat dimana aku bisa habiskan waktu, dengan membaca buku, nonton film, dengerin musik, membuat karya tulisan yang kelak akan membuatku kaya raya terlepas dari belenggu hutang dan kebodohan. Aku benci dikuasai uang, aku ingin uang yang bertekuk lutut di hadapanku. Tampa uang studyku akan sirna, namun aku sungguh benci diatur uang. Ada teman yang mengingatkanku agar tidak terlalu banyak berada di kamar kos, bisa-bisa ketinggalan
jaman kata mereka. Beberapa bulan berkarya, akhirnya novelku jadi dan beruntung lagi, ada penerbit yang tertarik, aku sangat senang, namun tidak disangka-sangka aku didera sakit yang berkepanjangan mataku sakit dan tubuhku lemas karena kurang olah raga, itu kata dokter. Sekarang aku harus opname di rumah sakit, dan uang hasil penjualan buku novel habis digunakan untuk biaya pengobatan, lagi-lagi aku harus menunda melanjutkan kuliah s1, dan parahnya uang kuliah juga harus dikumpulkan dari awal lagi. Andai saja aku kemarin mau keluar kamar beberapa jam dalam sehari. Tentu semua ini tidak akan terjadi. Doakan kesembuhanku! Makasih.
Special thanks to kak Novi
oleh A A bil Haq

0 komentar:
Post a Comment
SILAHKAN ISI KOMENTAR